Perusahaan
Indonesia yang merupakan produsen batu bara terbesar di belahan bumi selatan dan
keempat terbesar di dunia. CEO Garibaldi Thohir (orang indonesia) memiliki kira-kira
seperenam saham dari Adaro, senilai lebih dari $ 1 miliar. Tahun ini
keuntungan bersih perusahaan ini membaik kembali setelah jatuh 47% tahun lalu
menjadi $ 245.000.000 (pada penurunan 4% dalam pendapatan menjadi $ 2,7
miliar). Pada semester pertama tahun ini Adaro sudah mendapatkan keuntungan bersih mencapai $ 268 juta, naik 113% dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya. Pendapatan naik
36% menjadi $ 1,8 miliar.
Penerapan K3 di PT. Adaro Indonesia
PT. Adaro Indonesia secara konsisten
melakukan upaya terbaik demi terciptanya lingkungan kerja yang aman. Kami
percaya bahwa setiap kejadian, cidera dan penyakit yang berhubungan dengan
pekerjaan bisa dicegah.
Pada saat yang sama kami juga ingin
selalu menjalin kerja sama yang baik dengan pemerintah dan masyarakat setempat
untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan, yang berarti meminimalisasi
dampak operasi perusahaan terhadap lahan yang ada dan merehabilitasinya secara
komprehensif dan semaksimal mungkin.
Mulai tahun 2013, perusahaan
menerapkan lima pilar berikut dalam pengelolaan Mutu, Kesehatan, Keselamatan,
dan Lingkungan, atau yang dikenal dengan istilah Quality, Health, Safety, and
Environment (QHSE):
1)
Komitmen Kepemimpinan
Komitmen
PT. Adaro Indonesia terhadap QHSE dimulai dari Direksi dan kemudian berlanjut
ke seluruh jajaran organisasi. Walaupun target, batas waktu dan biaya merupakan
hal yang penting, PT. Adaro Indonesia tidak akan pernah mengorbankan kesehatan
dan keselamatan para karyawannya maupun lingkungan hidup.
2) Fokus
terhadap Pengendalian Risiko Utama
Operasi penambangan dengan
skala sebesar dan serumit bisnis PT. Adaro Indonesia
mengandung ribuan risiko QHSE, dan dengan sumber daya yang ada, perusahaan
berfokus pada mitigasi risiko-risiko utama. Tim QHSE menelusuri setiap area
kerja dan mengidentifikasi risiko-risiko utama yang terkandung dalam setiap
tugas pekerjaan. Tim QHSE harus memastikan adanya pengendalian yang memadai
dalam prosedur kerja dan pengawasan supaya upaya pencegahan kecelakaan dapat
dimulai dari sumbernya.
Pada titik ini, perusahaan PT. Adaro Indonesia menerapkan Adaro Fatality
Prevention Program (AFPP), dimana risiko-risiko utama yang terkandung dalam
setiap aktivitas beserta pengendaliannya diidentifikasi dan dikaji. Hasilnya
akan dipakai sebagai panduan untuk inspeksi dan evaluasi lapangan serta untuk
memastikan bahwa tim sudah membuat rencana mitigasi risiko dengan benar.
Sejak program ini dimulai
pada tahun 2013, perusahaan telah mengidentifikasi berbagai risiko QHSE dan
ditemukan bahwa sepuluh risiko yang paling utama adalah: kesalahan
pengoperasian peralatan bergerak, ledakan, isolasi energi (listrik, mekanik,
dan termal), terjatuh, tenggelam dan kecelakaan pada saat mengangkat dan
menarik beban yang besar dan berat.
3)
Pendidikan dan Pelatihan
bagi Karyawan
Karyawan PT. Adaro Indonesia mencapai
ribuan orang, yang semua terpapar terhadap risiko kesehatan dan keselamatan
kerja. Perusahaan merasa bertanggung jawab untuk mendidik dan melatih
masing-masing dari mereka tentang cara bekerja yang aman dan sehat. Karyawan
baru harus mengikuti program pengenalan keselamatan dan orientasi lapangan
sebelum diberikan ijin untuk bekerja di dalam area proyek perusahaan. Selain
itu, perusahaan juga menyelenggarakan sesi pengenalan keselamatan bagi para
pengunjung yang memasuki wilayah operasinya.
4)
Sistem Manajemen QHSE Terpadu
Untuk mengelola QHSE secara
efektif di dalam kegiatan operasional, SIS terus mengembangkan dan
mengimplementasikan sistem manajemen QHSE terpadu yang mengacu kepada standar
internasional, misalnya ISO 9001, ISO 14001 and OHSAS 18001, di seluruh
organisasinya.
Implementasi sistem
manajemen ini menjamin bahwa setiap tugas dalam operasi perusahaan dilaksanakan
secara konsisten menurut prosedur standar yang selaras dengan kebijakan
perusahaan di samping mematuhi standar internasional.
Selama tahun ini, Divisi
QHSE PT. Adaro Indonesia telah menyelesaikan
pengembangan sistem manajemen terpadu untuk JPI dan peningkatan sistem
manajemen air tambang di operasi AI. Perusahaan juga telah memulai implementasi
sistem manajemen terpadu di MSW dan meningkatkan dan memperbaharui QHSE
Management System dari Divisi Coal Processing and Barge Loading Adaro
Indonesia.
Pada tahun 2014, audit QHSE
terhadap sistem manajemen divisi AI tersebut telah mulai dilakukan. Temuan
audit ditindaklanjuti dengan rencana tindakan perbaikan. Selain audit tersebut,
PT. Adaro Indonesia melibatkan lembaga
audit independen, yaitu SGS, untuk mengadakan audit pemantauan (surveillance
audit) terhadap unit tersebut untuk mempertahankan sertifikasi sistem
manajemen.
Satu aspek penting lainnya
dari manajemen QHSE di AI adalah pembuatan “Adaropedia”, suatu sistem informasi
berbasis internet yang menyimpan dan menampilkan data dan informasi pemantauan
HSE.
5)
Penegakan Kebijakan dan Prosedur QHSE
Seluruh
karyawan PT. Adaro Indonesia harus
menghormati dan mematuhi kebijakan dan prosedur QHSE. Para karyawan yang
berkontribusi terhadap QHSE melebihi kewajibannya akan mendapat pengakuan dari
perusahaan sedangkan karyawan yang melanggar peraturan QHSE akan diberikan
sanksi. Perusahaan meyakini bahwa tanpa penegakan yang kuat, upaya untuk
mencapai kinerja QHSE yang lebih baik tidak akan efektif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar