Rabu, 12 April 2017

K3 Pada Perusahaan PT. Adaro Indonesia


Perusahaan Indonesia yang merupakan produsen batu bara terbesar di belahan bumi selatan dan keempat terbesar di dunia. CEO Garibaldi Thohir (orang indonesia) memiliki kira-kira seperenam saham dari Adaro, senilai lebih dari $ 1 miliar. Tahun ini keuntungan bersih perusahaan ini membaik kembali setelah jatuh 47% tahun lalu menjadi $ 245.000.000 (pada penurunan 4% dalam pendapatan menjadi $ 2,7 miliar). Pada semester pertama tahun ini Adaro sudah mendapatkan keuntungan bersih mencapai $ 268 juta, naik 113% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan naik 36% menjadi $ 1,8 miliar.

Penerapan K3 di PT. Adaro Indonesia
PT. Adaro Indonesia secara konsisten melakukan upaya terbaik demi terciptanya lingkungan kerja yang aman. Kami percaya bahwa setiap kejadian, cidera dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan bisa dicegah.
Pada saat yang sama kami juga ingin selalu menjalin kerja sama yang baik dengan pemerintah dan masyarakat setempat untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan, yang berarti meminimalisasi dampak operasi perusahaan terhadap lahan yang ada dan merehabilitasinya secara komprehensif dan semaksimal mungkin.
Mulai tahun 2013, perusahaan menerapkan lima pilar berikut dalam pengelolaan Mutu, Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan, atau yang dikenal dengan istilah Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE):
1)      Komitmen Kepemimpinan
Komitmen PT. Adaro Indonesia terhadap QHSE dimulai dari Direksi dan kemudian berlanjut ke seluruh jajaran organisasi. Walaupun target, batas waktu dan biaya merupakan hal yang penting, PT. Adaro Indonesia tidak akan pernah mengorbankan kesehatan dan keselamatan para karyawannya maupun lingkungan hidup.

                                          
2)      Fokus terhadap Pengendalian Risiko Utama
Operasi penambangan dengan skala sebesar dan serumit bisnis PT. Adaro Indonesia mengandung ribuan risiko QHSE, dan dengan sumber daya yang ada, perusahaan berfokus pada mitigasi risiko-risiko utama. Tim QHSE menelusuri setiap area kerja dan mengidentifikasi risiko-risiko utama yang terkandung dalam setiap tugas pekerjaan. Tim QHSE harus memastikan adanya pengendalian yang memadai dalam prosedur kerja dan pengawasan supaya upaya pencegahan kecelakaan dapat dimulai dari sumbernya.
Pada titik ini, perusahaan PT. Adaro Indonesia menerapkan Adaro Fatality Prevention Program (AFPP), dimana risiko-risiko utama yang terkandung dalam setiap aktivitas beserta pengendaliannya diidentifikasi dan dikaji. Hasilnya akan dipakai sebagai panduan untuk inspeksi dan evaluasi lapangan serta untuk memastikan bahwa tim sudah membuat rencana mitigasi risiko dengan benar.
Sejak program ini dimulai pada tahun 2013, perusahaan telah mengidentifikasi berbagai risiko QHSE dan ditemukan bahwa sepuluh risiko yang paling utama adalah: kesalahan pengoperasian peralatan bergerak, ledakan, isolasi energi (listrik, mekanik, dan termal), terjatuh, tenggelam dan kecelakaan pada saat mengangkat dan menarik beban yang besar dan berat.

3)      Pendidikan dan Pelatihan bagi Karyawan
Karyawan PT. Adaro Indonesia mencapai ribuan orang, yang semua terpapar terhadap risiko kesehatan dan keselamatan kerja. Perusahaan merasa bertanggung jawab untuk mendidik dan melatih masing-masing dari mereka tentang cara bekerja yang aman dan sehat. Karyawan baru harus mengikuti program pengenalan keselamatan dan orientasi lapangan sebelum diberikan ijin untuk bekerja di dalam area proyek perusahaan. Selain itu, perusahaan juga menyelenggarakan sesi pengenalan keselamatan bagi para pengunjung yang memasuki wilayah operasinya.

4)      Sistem Manajemen QHSE Terpadu
Untuk mengelola QHSE secara efektif di dalam kegiatan operasional, SIS terus mengembangkan dan mengimplementasikan sistem manajemen QHSE terpadu yang mengacu kepada standar internasional, misalnya ISO 9001, ISO 14001 and OHSAS 18001, di seluruh organisasinya.
Implementasi sistem manajemen ini menjamin bahwa setiap tugas dalam operasi perusahaan dilaksanakan secara konsisten menurut prosedur standar yang selaras dengan kebijakan perusahaan di samping mematuhi standar internasional.
Selama tahun ini, Divisi QHSE PT. Adaro Indonesia telah menyelesaikan pengembangan sistem manajemen terpadu untuk JPI dan peningkatan sistem manajemen air tambang di operasi AI. Perusahaan juga telah memulai implementasi sistem manajemen terpadu di MSW dan meningkatkan dan memperbaharui QHSE Management System dari Divisi Coal Processing and Barge Loading Adaro Indonesia.
Pada tahun 2014, audit QHSE terhadap sistem manajemen divisi AI tersebut telah mulai dilakukan. Temuan audit ditindaklanjuti dengan rencana tindakan perbaikan. Selain audit tersebut, PT. Adaro Indonesia melibatkan lembaga audit independen, yaitu SGS, untuk mengadakan audit pemantauan (surveillance audit) terhadap unit tersebut untuk mempertahankan sertifikasi sistem manajemen.
Satu aspek penting lainnya dari manajemen QHSE di AI adalah pembuatan “Adaropedia”, suatu sistem informasi berbasis internet yang menyimpan dan menampilkan data dan informasi pemantauan HSE.
5)      Penegakan Kebijakan dan Prosedur QHSE 
Seluruh karyawan PT. Adaro Indonesia harus menghormati dan mematuhi kebijakan dan prosedur QHSE. Para karyawan yang berkontribusi terhadap QHSE melebihi kewajibannya akan mendapat pengakuan dari perusahaan sedangkan karyawan yang melanggar peraturan QHSE akan diberikan sanksi. Perusahaan meyakini bahwa tanpa penegakan yang kuat, upaya untuk mencapai kinerja QHSE yang lebih baik tidak akan efektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar